Samurai Jepang terkenal akan ketangguhannya. Tak kenal kompromi,
cekatan dan loyal terhadap tuannya. Tubuh-tubuh lawan ditebas tanpa ragu
di medan perang. Tak ayal, kaum samurai adalah prajurit perang paling
efektif dan efisien.
Namun, sejatinya seorang samurai adalah pengabdi. Ia tak hanya
berurusan dengan tugas-tugas di medan perang, tetapi juga melakukan apa
pun yang diperintahkan oleh tuannya, termasuk hal-hal yang remeh sekali
pun.
Loyalitas yang dibangun oleh samurai kepada tuannya dapat dikatakan
ekstrim. Mereka wajib mengorbankan segalanya demi keselamatan tuannya.
Adalah hal yang tabu bagi seorang samurai untuk mempermalukan tuannya,
membuka aibnya atau bahkan sekadar membicarakannya meskipun tuannya
sudah meninggal.
Bagaimana kaum samurai tersebut menjaga prinsip hidup mereka yang
sangat ketat itu? Jawabannya adalah dengan berpegang teguh pada ajaran bushido, semacam kode kehormatan samurai yang menggabungkan nilai-nilai Budhis, Chu-Tsu, Konfusius, dan Shinto.
Buku yang disarikan dari kitab kuno pada masa pemerintahan Shogun
Tokugawa ini berisi nukilan butir-butir pemikiran Yamamoto Tsunetomo
mengenai intisari ajaran bushido. Ia sendiri adalah samurai yang mengabdi pada Nabeshima Mitsushige, penguasa prefektur Saga.
Tsunetomo menggali hakikat ajaran bushido dengan melakukan
perjalanan spiritual bertahun-tahun ketika ia dibebastugaskan untuk
sementara waktu oleh tuannya. Dengan menjadi ronin—prajurit tanpa
tuan—ia mengembara pada usia belia dan berbicara dengan samurai lain,
biksu dan orang-orang yang dapat mencerahkannya.
Ajaran bushido sendiri sudah dikenal sejak abad ke-17. Terdiri dari tiga huruf kanji, bu (perang), shi (orang), do (jalan), ajaran ini seolah menegaskan bahwa jalan seorang samurai adalah di medan perang dan mengabdi pada seseorang.
Ada delapan prinsip bushido, yakni: (1) Jin—memahami orang
lain, (2) Gi—menjaga etika, (3) Chu—setia kepada tuannya, (4)
Ko—menghormati orang tua, (5) Rei—menghormati sesama, (6) Chi—memperluas
pengetahuan, (7) Shin—menjaga kejujuran, (8) Tei—mencintai orang tua
dan siapa pun yang harus dikasihani.
Tsunetomo membenci sikap pengecut. Seorang samurai harus menunjukkan
keberanian, meskipun ia tahu nyawanya terancam. Di medan perang, haram
bagi seorang samurai untuk mati dalam keadaan membelakangi musuh. Ia
harus terus melawan, dan mati secara jantan.
Kejujuran juga sangat penting bagi seorang samurai. Jika melakukan
kesalahan, tak perlu ragu untuk mengakuinya. Apabila melanggar hukum dan
mencemarkan nama baik klan dan keluarga, seorang samurai lebih baik
mati terhormat dengan cara sekippu—merobek perutnya sendiri—daripada kabur dan menyelamatkan diri.
Sayangnya, sosok samurai ideal yang memegang teguh ajaran bushido
mulai jarang ditemui waktu itu. Ketika Tsunetomo mulai membangun
karirnya sebagai samurai muda, Jepang tengah berada dalam masa damai
yang panjang.
Perang Sekigahara antara klan Hideyoshi dan Tokugawa telah usai pada
1600. Keadaan yang “adem ayem” itu justru membuat kaum samurai mlempem. Hampir seratus tahun lamanya tak ada samurai yang turun di medan perang. Mereka hanya mengurusi tugas-tugas administratif.
Oleh karena itu lah, Tsunetomo menceritakan kembali kisah-kisah teladan samurai terdahulu yang setia di jalan bushido
dan menjalankan perannya sebagai seniman perang. Ia juga mencibir
samurai-samurai muda yang terlalu takut membunuh. Keadaan damai memang
lambat laun membuat mereka menjadi terlalu feminin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar